Pemimpin HPE dan AMD Tangkal Isu ‘Bubble’ AI yang Akan Meledak

0
46

News,JAKARTA — Para pengusaha perusahaanteknologiglobal mengatasi kekhawatiran terkait meledaknya gelembung (bubble) di sektorkecerdasan buatanatau kecerdasan buatan (AI), meskipun investasi di bidang ini dilaporkan telah melebihi angka 1 miliar dolar AS atau sekitar 16.660 triliun rupiah (asumsi kurs Rp16,660 per dolar AS).

Banyak analisis memberikan peringatan dan membandingkan kondisi saat ini dengan masa dotcom. Namun, para eksekutif tetap bersikeras bahwa industri AI baru saja memasuki tahap awal pertumbuhan jangka panjang.

Mengutip The Register Senin (08/12/2025), perdebatan ini muncul dalam berbagai konferensi teknologi minggu ini, termasuk HPE Discover di Barcelona dan UBS Global Technology and AI Conference.

Kepala Eksekutif dan Manajer Umum Divisi Jaringan Hewlett Packard Enterprise (HPE), Rami Rahim, menyatakan bahwa pihaknya belum menemukan indikasi penurunan permintaan perangkat keras berkinerja tinggi yang menjadi dasar pengembangan AI.

“Saat ini, saya belum melihat tanda-tanda penurunan laju berdasarkan proyek-proyek yang ada di pasar serta diskusi dan rencana yang telah kami bahas dengan pelanggan,” kata Rahim.

Rahim mengakui bahwa koreksi pasar merupakan hal yang wajar dalam sejarah industri, tetapi ia merasa kondisi saat ini berbeda dari runtuhnya pasar dotcom. Menurutnya, tingkat kepercayaan dan penerimaan teknologi saat ini jauh lebih dewasa.

Sebagai informasi, periode akhir 1990-an dikenal dengan dotcom bubble, yaitu saat banyak perusahaan internet dinilai sangat mahal meskipun belum memiliki model bisnis yang jelas. Ketika kepercayaan para investor mulai hilang, harga saham turun bebas dan banyak perusahaan bangkrut.

Rahim memberikan contoh, efisiensi nyata telah terbentuk di dalam HPE, di mana pengembang perangkat lunak menjadi lebih efisien berkat bantuan teknologi copilot.

Sejalan dengan HPE, CEO Advanced Micro Devices (AMD) Lisa Su juga menolak keras narasi gelembung AI. Pada acara UBS, Su menyatakan bahwa industri teknologi saat ini berada di awal “siklus super sepuluh tahun”.

Ia menjelaskan bahwa tahap pelatihan model yang menjadi penggunaan utama kini mulai berpindah ke arah inferensi. Hal ini memaksa perusahaan korporasi untuk terus menyesuaikan infrastruktur mereka, yang berdampak pada meningkatnya permintaan komputasi.

“Salah satu hal yang tetap terjadi ketika kami berbicara dengan pelanggan adalah kebutuhan akan komputasi yang lebih besar,” ujar Su.

Optimisme Su mencakup penilaian fantastis terhadap OpenAI yang mencapai US$500 miliar atau sekitar Rp 8.330 triliun. Meskipun pembuat ChatGPT tersebut diperkirakan belum akan menghasilkan keuntungan hingga 2030 dan harus menghabiskan dana untuk investasi pusat data, Su merasa hal ini wajar bagi perusahaan dengan modal kuat pada masa kritis ini.

Namun, pandangan optimis para pemimpin teknologi ini bertolak belakang dengan suasana pasar yang lebih waspada.

Perusahaan riset Forrester baru saja mengungkapkan bahwa banyak organisasi besar berencana menunda pengeluaran untuk AI mereka hingga tahun 2027. Penundaan ini terjadi karena adanya perbedaan antara janji yang dijanjikan oleh vendor teknologi dengan kenyataan dalam penerapan di lapangan.

Di sisi lain, Ketua SK Group Chey Tae-won menyampaikan pendapat yang lebih seimbang. Chey menganggap industri AI tidak merupakan gelembung, tetapi ia memperingatkan bahwa pasar saham telah merespons terlalu cepat.

“Ketika Anda melihat pergerakan pasar saham, naiknya terlalu cepat dan terlalu tinggi, sehingga saya merasa wajar jika akan terjadi fase penurunan,” kata Chey.

Peringatan serupa juga datang dari Komite Kebijakan Keuangan Bank of England yang menyoroti bahaya koreksi mendadak di pasar keuangan akibat saham AI. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman pada awal tahun ini pernah mengakui adanya kemungkinan gelembung dalam industri tersebut.(Muhammad Diva Farel Ramadhan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here