5 Fakta Mengejutkan tentang Tupai Madras: Bukan Master Pendaki Pohon seperti yang Dikira!

0
153

Tupai madras (
Anathana ellioti
Jadi, spesies tupai tunggal di dalam genus tersebut adalah unik.
Anathana
Mereka juga dikenali dengan berbagai nama lain, seperti
madras tree shrew
dan
indian tree shrew
Dari segi tampilan, tupai Madras memang sangat mirip dengan beberapa jenis tupai lain, terutama mereka yang termasuk dalam genus tersebut.
Tupaia
Hanyalah bahwa bulu pada tubuh tupai tersebut lebih lebat dan telinganya lebih panjang.

Rambut tupai Madras memiliki variasi warna yang lumayan besar, meliputi coklat, kuning, hitam, serta merah kecoklatan. Ukuran badannya berkisar antara 16-18,5 sentimeter disertai ekornya yang panjangnya 16,5 sampai 19,5 centimeter sehingga perbandingan antara tubuh dan ekornya mendekati 1:1. Untuk bobot, populasi dewasanya biasanya menginjak angka 90 hingga 190 gram. Pada pembicaraan kali ini, mari kita kenalkan diri sedikit lebih dekat dengan jenis unik ini di antara spesies tupai dalam kelompok tersebut.
Anathana
Ini dia. Jika Anda sudah tidak sabar, mari langsung saksikan!

1. Sebaran peta, lingkungan hidup, serta makanan kesukaannya

Tupai Madras sebenarnya adalah spesies asli India. Berdasarkan laporan tersebut,
India Biodiversity Portal
Mamalia ini dapat ditemui mulai dari Gujarat, Madhya Pradesh, wilayah Barat Bengali, Tamil Nadu, hingga Kerala. Tambahan pula, area di selatan sungai Gangga serta kawasan-kawasan lainnya di India bagian selatan juga merupakan habitat untuk tupai tersebut. Bahkan, tupai Madras ternyata memiliki tiga variasi subspecies yang dikategorikan menurut lokasi pengamatannya.

Urusan tempat tinggal, tupai Madras lebih memilih hutan yang cukup basah. Selain itu, jenis habitat lain seperti daerah kemiringan tanah serta tebing bergaya perbukitan yang dipenuhi bebatuan, savana terbuka, dan lahan pertanian milik manusia pun menjadi pilihan hunian untuk spesies ini. Melihat jumlah penduduk manusia yang besar di India, sering kali kita melihat tupai Madras berkeliaran di dekat permukiman warga. Akan tetapi, tidak ada petunjuk pasti mengenai adaptasinya dalam lingkungan yang banyak dipengaruhi keberadaan manusia.

Terkait dengan masalah pangan, tupai Madras adalah hewan yang memakan segala sesuatu atau dikenal sebagai omnivora. Mereka menikmati aneka ragam seperti serangga, ulat, kupu-kupu, cacing, buah-buahan, serta beri-berian. Selain itu, spesies tupai tersebut diketahui aktif pada siang hari sehingga mereka biasanya melakukan pencarian makanan ketika matahari belum tenggelam.

2. Tidak termasuk kelompok hewan arboreal asli

Yang kemungkinan akan membingungkan kita adalah kenyataan bahwa tupai Madras sesungguhnya tidak termasuk jenis hewan arboreal asli. Lebih baik menyebut tupai tersebut sebagai setengah arboreal atau semi-arboreal, karena seringkali mereka cenderung lebih banyak beraktivitas di area tanah daripada pohon.
Animalia
Menurut laporan, tupai Madras cenderung memilih tempat tinggal di antara bebatuan yang berdekatan dengan sumber pangan. Hal ini dikarenakan posisi mereka di permukaan tanah memberikan kemudahan dalam mengakses makanan.

Tidak berakhir di sana, sarang tupai Madras untuk beristirahat juga sering ditemukan dalam celah-celah bebatuan atau lobang tanah yang memiliki beberapa jalur masuk. Meskipun perlu mendaki pohon, tupai ini pada dasarnya baru melakukan hal tersebut saat ingin menghindari pemangsa, bermain, atau membersihkan diri. Oleh karena itu, keterampilan mendaki tupai Madras cukup standar dan tidak begitu cekatan bila dibandingkan dengan jenis tupai lainnya yang ahli dalam memanjat.

3. Sang seniman yang tekun menjaga kebugaran jasmani


Tupai

Madras tidak tinggal dalam kelompok. Selain masa berkembang biak, hewan ini sering kali ditemukan sendirian, entah saat mencari makanan, beristirahat, atau menjaga kebersihan dirinya. Untuk hal terakhir tersebut, si tupai Madras memiliki metode tersendiri untuk membersihkan dan merawat tubuhnya pasca aktifitas.

Animal Diversity
Menurut sumber tersebut, tupai Madras menggunakan kedua kakinya di depan seperti sisir untuk meratakan bulunya yang lebat. Selain itu, mereka juga memanfaatkan pohon-pohon di sekitarnya yang memiliki batang bergumpal. Awalnya, hewan ini akan menanjak sampai ke ketinggian dua meter. Lalu, mereka akan menjulurkan tubuh semaksimal mungkin dengan kepala tertuju ke arah tanah. Ketika sudah dalam posisi ideal, tupai Madras pun meluncur turun berkali-kali dengan sudut kemiringan bervariasi agar setiap bagian tubuh tersikat sempurna.

4. Sistem reproduksi

Belum banyak informasi terkait proses reproduksi tupai Madras yang telah didokumentasikan sampai saat ini, seperti contohnya mengenai waktu puncak musim perkawinan dan adat istiadat tertentu selama berpacaran. Sampai dengan sekarang belum ditemukan literatur resmi yang membahas masalah tersebut secara rinci. Namun demikian,
India Biodiversity Portal
menjelaskan bahwa sepasang tupai Madras yang terbentuk ternyata mempunyai area khusus yang secara reguler mereka pertahankan sepanjang musim breeding.

Selanjutnya, terkait dengan jumlah anak yang bisa lahir dalam satu musim perkawinan, diduga bahwa seekor betina tupai Madras mampu memproduksi antara 1 hingga 5 bayi. Masa kehamilan bagi betina tupai tersebut berlangsung kurang lebih dari 46 sampai 52 hari. Seperti jenis mamalia lainnya, betina tupai Madras bertugas merawat serta memberikan susu kepada anak-anaknya hingga mencapai usia tertentu. Menyenangkan bukan? Hanya dibutuhkan waktu sekitar 90 hari agar anak tupai ini siap secara biologis dewasa.

5. Status konservasi

Mengutip dari Daftar Merah IUCN, tupai madras saat ini tetap berada dalam kategori hewan yang memiliki tingkat keprihatinan rendah (Least Concern). Meski demikian, kondisi jumlah populasi mamalia tersebut cukup memprihatinkan sebab angka kepadatan populasi mereka semakin merosot setiap tahun. Beberapa faktor telah mendorong pengurangan populasi tupai madras.

Alasan utamanya adalah hilangnya habitat asli tupai Madras dikarenakan penebangan hutan besar-besaran oleh manusia untuk membangun permukiman dan infrastruktur. Dengan semakin luasnya area hunian manusia, interaksi antara mereka dengan tupai Madras menjadi lebih sering, termasuk peristiwa tupai yang menjadi korban tabrak lari oleh kendaraan bermotor. Tambahan masalah lainnya, ada juga daerah dimana tupai ini ditangkap secara berlebihan karena diyakini memiliki khasiat obat tertentu.

Sebagai konsekuensi dari permasalahan-permasalahan itu, jumlah keseluruhan penduduk menjadi berkurang.

tupai

Madras diprediksi telah menyusut hingga 10 persen selama dekade terakhir. Penurunan yang cukup signifikan itu memerlukan perhatian khusus agar kondisi tersebut bisa diatasi. Semoga situasi populasi tupai unik dari jenisnya dalam genus tersebut masih dapat pulih.
Anathana
Ini bisa menjadi lebih baik di masa depan, ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here