Banyak nama yang dimilikinya, mulai dari kera daun Sumatra, kera daun Thomas, lutung Thomas, dan lutung abu-abu Sumatra. Sesuai dengan namanya, kera daun Sumatra berasal dari Sumatra (endemik), khususnya ditemukan di Sumatra Utara.
Anda dapat menemukan lutung thomas di bagian utara sepanjang tepi Sungai Wampu, Sungai Simpang Kiri, hutan hujan tropis, hutan dataran rendah, rawa, hutan primer dan sekunder, perkebunan karet, serta dataran tinggi yang berada pada ketinggian 3400 meter di atas permukaan laut.
Warga setempat di daerahnya menyebut hewan ini dengan nama reungkah (dalam bahasa Aceh) dan kedih (dalam bahasa Alas). Monyet daun sumatra umum ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser. Informasi lengkap mengenai monyet daun sumatra dapat kamu ketahui sekarang.
1. Ciri fisik kera daun sumatra
Monyet daun sumatra merupakan primata berukuran sedang yang memiliki ekor yang panjang. Panjang tubuhnya sekitar 55 cm, beratnya bisa mencapai 7-8 kg, dan panjang ekornya juga sampai 55 cm. Mata monyet ini berwarna coklat, rambutnya pendek dengan warna abu-abu keperakan, telinganya berwarna hitam, bibirnya coklat, serta bulu tubuhnya berwarna abu-abu keperakan. Perut dan dadanya berwarna putih krem.
Cara mengidentifikasi lutung thomas adalah dengan adanya bulu di bagian kepala yang berdiri tegak seperti gaya mohawk. Terdapat lingkaran berwarna ungu-perak di sekitar mata yang berwarna jingga-coklat. Dua garis melengkung dari atas kepala menuju mata, membentuk huruf V di dekat mata.
2. Perilaku yang berbeda-beda dari mereka
Sebagian besar kehidupan monyet daun sumatra berlangsung di pohon atau lingkungan arboreal. Mereka bergerak dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Monyet daun sumatra memiliki kebiasaan tidur, tetapi mereka senang berkumpul dalam kelompok.
Sebuah kumpulan monyet yang terdiri dari 2 hingga 16 individu dipimpin oleh satu jantan utama, sebagian besar betina, dan hanya dua jantan. Wilayah keberadaan mereka sekitar 27 hektar. Terdapat perubahan dalam struktur kelompok. Betina cenderung mencari kelompok lain setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, sedangkan jantan membentuk kelompok baru.
3. Kehidupan pernikahan pasangan kera
Dalam satu kelompok kera, jantan biasanya menikahi beberapa betina. Pasangan kera daun Sumatra cenderung berkembang biak ketika makanan tersedia dalam jumlah banyak. Masa kehamilan berlangsung selama 6 bulan dan betina hanya melahirkan satu anak. Bayi dirawat oleh induknya selama beberapa bulan dan disapih setelah 16 bulan ketika anaknya sudah mampu mandiri.
Induk betina yang bertanggung jawab dalam merawat anak-anaknya karena jantan jarang melibatkan diri dalam perawatan keturunannya. Tugas jantan adalah menjaga keamanan kelompok tersebut.
Setelah melahirkan, betina berpindah ke kelompok lain. Dugaan kuatnya adalah untuk mencegah perkawinan antar saudara. Secara umum, monyet daun sumatra mencapai kematangan seksual pada usia 5 tahun.
4. Jenis makanan dan musuh alaminya
Monyet daun sumatra merupakan hewan pemakan daun, yang berarti mereka mengonsumsi daun tanaman. Perutnya terdiri dari beberapa ruang yang berfungsi untuk mencerna bahan makanan berbentuk tumbuhan berserat seperti buah dan daun yang belum matang.
Kera juga menyukai mengonsumsi sayuran hijau, buah matang, dan bunga yang masih muda. Yang menarik, mereka memakan 218 jenis tumbuhan. Sebenarnya, lutung thomas juga mengonsumsi hewan seperti cacing tanah dan alga selama musim kemarau.
Beberapa predator lutung thomas juga mampu memanjat pohon seperti ular sanca batik, macan dahan, harimau, dan kucing emas. Monyet sering menjadi sasaran ketika berada dekat dengan predatornya. Karena, monyet daun sumatra bergerak sangat cepat antar pohon.
5. Ancaman terbesar yang dihadapi monyet daun sumatra adalah penggundulan hutan di wilayah tempat tinggalnya.
Dilansir kids.kiddle, monyet daun sumatra menghadapi bahaya yang besar di habitatnya yaitu Leuse dan Ulu Massen, di mana hutan mereka dirusak secara besar-besaran. Penebangan hutan ini membuat monyet daun sumatra berada dalam ancaman kepunahan. IUCN menempatkan primata ini dalam kategori ‘rentan’ yang berisiko punah.
Mereka dikenal sebagai monyet daun karena makanan utamanya berupa daun, dan nama Thomas diberikan karena primata ini pertama kali dijelaskan oleh Thomas Stamford Raffles. Deretan suara yang dihasilkan oleh monyet tersebut adalah “chitt-chitt-chitt”, “shitt-shitt-shitt”, “cek-cek-cek”, dan “uuungk-uuungk-uuungk”.
Jadi, mari kita lindungi monyet daun sumatra agar tidak punah.
Mengapa Hewan Endemik Sumatra Menghadapi Bahaya Kepunahan? Berikut Penyebabnya! 6 Spesies Hewan Asli Malta yang Tinggal di Tengah Batu dan Laut, Bukan Hanya Sekadar Pulau Mediterania!




